Keindahan kota seoul
Kota Seoul
Kapan dan bagaimana Seoul terbentuk? Bahkan orang yang termasuk dalam
sepuluh juta penduduk kota metropolitan Seoul tidak begitu tahu tentang waktu
dan ruang asal mula terbentuknya kota yang mereka diami ini. Daerah Gangbuk
(daerah utara Sungai Han) adalah kota yang bangga dengan sejarahnya yang
berusia 600 tahun, sementara Gangnam (daerah Selatan Sungai Han) yang dikenal
dunia berkat lagu “Gangnam Style” belum memiliki identitas yang jelas sebagai
bagian dari kota Seoul. Masa lalu dan masa kini tidak jelas, dan seperti semua
kota yang ada terus mengalami perubahan, sebenarnya cukup sulit untuk
menggambarkan bagaimana rupa kota Seoul di masa depan.
Untuk itu kita perlu kembali pada titik awal. Dengan melihat Seoul dan
sekitarnya ketika pertama kali muncul dalam sejarah sebagai sebuah kota akan
memberikan beberapa pemikiran yang menarik bagi mereka yang tinggal atau berkunjung
ke Kota Seoul pada hari ini atau esok. Sekarang, mari kita memulai perjalanan
melewati ruang dan waktu untuk menemukan asal-usul Seoul.
Bentuk Asal Kota Seoul
Biasanya orang memperkirakan umur kota Seoul sekitar 600 tahun. Angka ini
menurut waktu relokasi ibukota dari Gaegyeong (kini Gaeseong, atau Kaesong, di
Korea Utara) ke Hanyang dua tahun setelah berdirinya Dinasti Joseon oleh Yi
Seong-gye di tahun 1392. Pada saat itu kota Hanyang berganti nama menjadi
Hanseong, dan sekali lagi itu nama Seoul pada tahun 1945, tak lama setelah
lepas dari pendudukan Jepang. Sejak Yi Seong-gye membuatnya sebagai ibukotanya,
Seoul tidak pernah sekali kehilangan peran sebagai ibukota bagi seluruh dinasti
atau pemerintahan yang pernah ada di Korea. Hal ini membuat kota Seoul
merupakan salah satu dari ibukota tertua di dunia.
Namun ada satu hal yang sering diabaikan dalam memperhitung-kan usia Seoul.
Yaitu bahwa Yi Seong-gye bukan membangun kota Hanseong sebagai kota baru di
suatu padang belantara. Dari seluruh wilayah di pusat kota Seoul saat ini, pada
bagian utara Cheonggye-cheon telah dipenuhi oleh rumah-rumah rakyat sejak
periode Goryeo akhir. Dinasti Goryeo menyisihkan suatu daerah di bagian barat
laut dari kota yang ditunjuk sebagai ibukota selatan yang disebut Namgyeong.
Untuk memudahkan pemerintahan seluruh negeri wilayah ibukota dibagi menjadi
tiga bagian yaitu Pyongyang yang disebut juga sebagai Seogyeong, Gaeseong yang
disebut juga sebagai Junggyeong, dan yang terakhir adalah Hanyang.
Jika sebuah kota menjadi basis regional biasanya sebuah istana sementara selalu
dibangun di kota itu. Istana sementara adalah pusat dari wilayah tersebut yang
digunakan sebagai tempat tinggal raja selama kunjungannya berulang kali. Istana
sementara di ibukota selatan, selesai pada 1104, terletak di sudut barat laut
yang sekarang Istana Gyeongbok, berlokasi di sebuah bukit kecil di sebelah
dalam Gerbang Utara dari Istana Gyeongbok. Dalam catatan “Sejarah Goryeo” yang
disusun pada zaman Goryeo yakni di awal periode Joseon, pada bulan 8 di tahun
tersebut, Raja Sukjong dari Goryeo mengunjungi ibukota selatan dan menerima
ucapan selamat atas perampungan pemba-ngunan istana di Yeonheungjeon, yang
dibangun sebagai aula pusat istana sementara.
Titik ruang dan waktu inilah yang penting. Lokasi Yeonheungjeon, di mana Raja
Sukjong menerima ucapan selamat dari bawahannya itulah titik awal terbentuknya
kota Seoul, dan arah selatan tempat Sukjong menebar pandangannya saat ia duduk
pada hari itu adalah pemandangan yang dapat kita saksikan pada hari ini saat
memandang kota Seoul. Raja Joseon Taejo membangun Geunjeongjeon, ruang tahta
Istana Gyeongbok, yang hanya berjarak 400 meter ke sebelah tenggara dari tempat
Yeonheungjeon berdiri, dan memasukkan seluruh situs istana sementara dalam
kompleks istana barunya. Istana Gyeongbok, istana utama Dinasti Joseon, pada
dasarnya mewarisi situs istana sementara selatan Goryeo.
Tentu saja skala regional Goryeo tidak mungkin sama dengan ibukota Joseon. Sama
seperti perluasan istana, Hanseong mencakup ibukota selatan Goryeo dan seluruh
daerah yang dikenal sebagai Hanyang- bu. Wilayah yang kita sebut sebagai
“Bagian Dalam 4 Gerbang Besar” merupakan wilayah dari perluasan pada saat itu.
Tembok kota Seoul, yang saat ini sedang dipulihkan de-ngan harapan untuk didaftarkan
dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, juga dibangun pada waktu itu.
Alasan menetapkan 300 tahun sebagai waktu terbentuknya kota Seoul adalah jelas.
Karena saat itulah batas-batas geografis Seoul antara dua gunung utama, Gunung
Bugak di utara dan Gunung Nam di selatan yang berhadapan dengan Gunung Ahn
ditetapkan. Wilayah Hanseong pada periode Joseon, yang melingkupi dengan dua
gunung yang saling berhadapan di sebelah utara dan selatan, yakni Gunung Bugak
dan Gunung Nam, dan dua gunung lain yang saling berhadapan di sebelah selatan,
yakni Gunung Nak dan Gunung Inwang (yang disebut juga sebagai Gunung Tharak) di
timur dan barat, hampir identik luasnya dengan wilayah gabungan Namgyeong dan
Hanyang di periode Goryeo. Hal ini tidak berubah melalui lima abad dari Dinasti
Joseon. Kota ini berkembang ke luar tembok ke arah timur dan barat selama masa
penjajahan Jepang, dan perluasan wilayah menyeberangi Su-ngai Han di bagian
selatan baru bermula pada tahun 1970-an.
Jalan ke Seoul
Mari kita berpikir sejenak. Jika dinasti Goryeo menetapkan Namgyeong sebagai
basis regional, pastilah saat itu dibangun juga jalan-jalan baru yang
menghubungkan Gaegyeong dengan Namgyeong. Mungkin saja ada jalan-jalan kecil
yang diperluas. Bukan hal tidak mungkin jalan antara dua ibukota baru yang
entah dibangun baru atau diperluas itu menjadi pendahulu untuk jalan-jalan yang
meng-hubungkan Seoul hari ini dengan daerah sekitarnya.
Jalan lama yang terbentuk secara alami sebagai jalur lintas orang-orang selama
ratusan tahun tidak pernah ada yang hilang begitu saja. Jalan-jalan itu tetap
bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menurut topografi alami
mungkin saja di sebelah jalan tikungan terbuat jalan lurus yang baru. Hal ini
sering terjadi seiring dengan laju kemajuan teknologi sipil. Apakah ini berarti
bahwa jalan lama menghilang? Toko kecil dan suram saja yang ‘mendekam’ di jalan
lama karena mereka tidak mungkin bisa mengambil lokasi di jalan raya, tetapi
jalan tua tidak mudah hilang. Kita saja yang tidak menyadarinya.
Ada satu alasan penting lain mengapa kita tidak bisa dengan mudah mengingat
jalan lama yang menghubungkan Gaegyeong dan Namgyeong. Yaitu karena terpecahnya
dua Korea menyebabkan kita tidak mungkin melewati sepanjang jalan dari Gaeseong
dari Seoul, sehingga mustahil untuk melakukan perjalanan panjang dari jalan
tersebut. Kekerasan politik internasional telah meninggalkan goresan luka pada
tanah dan struktur kota kita. Belakangan ini setelah beberapa pabrik Korea
Selatan masuk di kompleks industri Gaesong barulah terbuka lalu lintas yang
minim bak setitik lubang jarum di tembok pemisah nan besar.
Melalui catatan lama dan investigasi lapangan di daerah yang masih bisa
dikunjungi, kita dapat menduga jalan lintas orang-orang 900 tahun lalu dari
Gaegyeong ke Namgyeong. Ada dua jalan utama. Jika seorang pejabat dari Dinasti
Goryeo punya urusan resmi di Namgyeong, ia akan berjalan melalui Stasiun
Cheonggyo (‘stasiun’ di masa lalu menunjukkan tempat di mana para pejabat bisa
mengganti atau mengistirahatkan kuda mereka) yang berlokasi tepat di sebelah
timur Gaegyeong, menyeberangi Sungai Imjin di Stasiun Tongpa (kini Dongpa) di
Jangdan, dan kemudian menuju ke Paju. Sampai saat ini, dua jalan itu sama.
Jika pejabat ini sedang terburu-buru, ia akan berbelok ke selatan dari Paju dan
menyeberang Hye-Eumryeong, kemudian melintasi Stasiun Byeokji (kini Byeokje) di
Goyang dan Stasiun Yeongseo di Nokbeon-dong, Seoul. Dari perempatan Shopping
Mall Yujin sekarang di Hongje-dong dia akan menuju ke timur, mengikuti jalur
air ke Sae-geomjeong, di mana ia bisa menarik napas sejenah di atas bukit oleh
Gerbang Jaha (daerah Cheongun-dong sekarang) sebelum mema-
suki Namgyeong. Jalan ini adalah jalan pintas, karena itu harus melewati
sejumlah lembah yang curam. Jika si pejabat melarikan kuda dengan cepat, maka
jalan ini bisa ditempuh dalam satu hari.
Biasanya orang memilih untuk melewati jalan yang lebih nyaman. Diperkirakan
memakan waktu tiga atau empat hari untuk melakukan perjalanan dengan berjalan
kaki melewati jalan ini. Dari Paju pejalan kaki akan menuju ke timur dan
melewati Stasiun Nogyang di Yangju dan Stasiun Nowon sampai ke Namgyeong
melewati bagian luar Dong-daemun sekarang hanya dengan melewati beberapa bukit
di mana hampir sepanjang jalan merupakan jalan datar. Di Stasiun Namgyeong ia
akan beristirahat semalam, mandi, merapikan pakaian formal, dan memastikan
dokumen-dokumennya kemudian keesokan paginya ia berangkat menelusuri sepanjang
Cheonggye-cheon melewati Namgyeong memasuki istana. Perlu kita ketahui bahwa
pada zaman Goryeo jalan Jongro belum ada.
Dari antara dua jalan tersebut, jalan yang pertama adalah jalan masuk ke Seoul
langsung dari utara, dan jalan yang kedua adalah jalan masuk dari arah timur.
Kalau begitu, jalan mana yang digunakan oleh orang-orang dari wilayah selatan
yang ingin masuk ke Seoul? Walaupun tidak diketahui persis kapan jalan itu
terbentuk, setelah zaman pertengahan Joseon terbentuk jalan dari Gwacheon
setelah melewati Namtaeryeong dan menyeberangi Sungai Han dari Sapyeong-won
(kini Hangangjin).
Perlu dicatat di sini bahwa mereka yang bepergian ke Seoul selama periode
Goryeo dan Joseon dapat melihat kota Seoul dengan mata secara langsung dari
Hye-Eumryeong di sebelah utara, Namtaeryeong di sebelah selatan, dan Stasiun
Namgyeong di sebelah timur. Hye-Eumryeong adalah batas antara kota Goyang dan
Paju, Namtaeryeong adalah batas antara Gwacheon dan Sadang-dong di Seoul, dan
Stasiun Namgyeong Stasiun terletak di atas bukit di mana SMA Daegwang berlokasi
pada hari ini di Shinseol-dong, Seoul. Saat inipun Gunung Bukhan terlihat dari
puncak-puncak Hye-Eumryeong atau Namtaeryeong. Di sinilah seorang kelana bisa
menghela napas lega dan berkata pada dirinya sendiri, “Ah, akhirnya sampai juga
di Seoul.” Stasiun Namgyeong dulu berlokasi berhadapan dengan Dongdaemun atau
Hanyang. Titik ini menjadi batas visual dan psikologis wilayah ibukota.
Dari Ekspansi ke Koeksistensi
Dengan cara ini kita telah memperluas waktu dan ruang yang dimiliki oleh kota
Seoul. Yang dimaksud dengan perluasan atau ekspansi di sini adalah bahwa kita
menentukan periode asal mula kota Seoul yang secara umum telah diketahui, yakni
dengan menetapkan penetapan Hanseong sebagai ibukota baru oleh Yi Seong-gye
pendiri Dinasti Joseon tahun 1394. Dalam hal waktu, kita telah menelusuri
asal-usul Seoul sejak sekitar 300 tahun sebelumnya, dan dalam hal ruang kita
telah menelusuri kembali batas-batas visual dan psikologis Seoul dengan
menyelidiki jalan-jalan lama yang terlupakan karena adanya pembagian negara.
Semoga tidak terjadi kesalahpahaman. Apa yang kita coba di sini bukanlah
bermaksud untuk mengatakan bahwa hal-hal yang lebih tua selalu lebih baik.
Kalau mau memaksa, bisa saja kita memundurkan asal usul kota Seoul ke tahun 18
SM, ketika ibukota Kerajaan Baekje berada di benteng Wirye. Tapi benteng ini
terletak di sebelah selatan Sungai Han, yang merupakan bagian dari Kota
Metropolitan Seoul hari ini, tapi tidak ada hubungannya dengan Namgyeong atau
Hanyang Goryeo, atau Hanseong Joseon. Apalagi setelah Baekje memindahkan
ibukotanya ke Ungjin (kini Gongju) di tahun 475 ketika berada di bawah tekanan
dari Goguryeo dari utara, dan selama hampir 1.500 tahun daerah benteng itu
berupa reruntuhan atau tanah pertanian sampai menjadi bagian ibukota Seoul pada
tahun 1963. Jadi sejarah asal mula Seoul tidak dapat ditemukan di sini.
Hal yang sama juga berlaku dalam hal ruang. Adalah suatu kekeliruan jika
mengartikan wilayah administratif Seoul harus diperluas ke sebelah utara sampai
sejauh Hye-Eumryeong di Goyang karena kemungkinan daerah tersebut dulu termasuk
dalam wilayah seoul. Justru penulis berpikir bahwa untuk daerah utara Seoul,
seperti Goyang, Paju, dan Yangju, harus ditemukan cara hidup berdampingan
secara “horizontal” dengan Seoul. Dan ini barulah akan menjadi nyata saat dua
jalan dari Gaegyeong ke Namgyeong, pulih sepenuhnya.
Ini akan menjadi salah satu implikasi dari masa lalu Seoul yang perlu dicermati
untuk masa depan Seoul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar